Perjalanan Tour Spanyol adalah kelanjutan dari Tour Maroko yang diawali dari Algeciras, kemudian dilanjutkan ke Sevilla, Cordoba, Granada, Toledo, Madrid dan berakhir di Barcelona.
ALGECIRAS
Algeciras
Algeciras merupakan kota yang terletak di Spanyol bagian selatan dengan penduduknya berjumlah 109.000 jiwa (2005). Kota ini mempunyai sejarah ketika pengepungan Algeciras terjadi yang dilancarkan oleh tentara Kristen di kota ini selama periode Reconquista. Pengepungan yang dilancarkan oleh Raja Alfonso X dari Kastilia merupakan kampanye militer yang dimulai oleh Kerajaan Kastilia dengan tujuan untuk mengusir Maroko dari Algeciras.
Kota Algeciras, yang disebut Al-Yazira Al-Jadra oleh orang-orang Muslim, memiliki posisi yang strategis karena Algeciras saat itu merupakan benteng dan tempat pendaratan bala bantuan dari Afrika. Kastilia yang memiliki armada kapal yang kuat di Teluk Gibraltar melemparkan jangkar di Teluk Gibraltar untuk memblokir bala bantuan. Namun, walaupun telah memiliki beberapa hari untuk melancarkan pengepungan, armada ini dihancurkan oleh laksamana Muslim Abu Yusuf Yaqub selama Pertempuran Laut Algeciras.
Tiket Ferry Penyebrangan Selat GibraltarDua Laut yang tidak bersatu karena kadar garam berbeda
Dari Cape Spartel bertolak menuju Pelabuhan Tangier, kemudian menyebrangi Selat Gibraltar menuju Algeciras. Pada sisi utara adalah Spanyol dan Gibraltar, pada sisi selatan adalah Maroko dan Ceuta (sebuah eksklave Spanyol di Afrika Utara). Ada beberapa pulau kecil dalam selat ini yang diperebutkan, seperti Pulau Perejil, yang diklaim oleh Spanyol dan Maroko.
Selat Gibraltar memiliki lokasi yang sangat strategis. Kapal-kapal yang berlayar dari Atlantik ke Mediterania dan kebalikannya melewati selat ini. Pada Perang Dunia II, Britania (Inggris) mengontrol selat ini dari markas mereka. Kapal selam Jerman yang memasuki Laut Mediterania akan terjebak, karena mereka tidak bisa melewatinya kecuali dengan cara mengapung karena arus bawah laut selat terlalu kuat bagi kapal selam untuk menyelam. Selat ini memiliki kedalaman sekitar 300 meter, dan lebar sekitar 14 kilometer pada sisi tersempitnya.
Al-Quran Ungkap Laut Dua Warna di Selat Gibraltar, tapi tahukah bahwa laut di Selat Gibraltar tersebut memiliki dua warna? Dalam al-Quran, laut dua warna itu dijelaskan dalam surah ar-Rahman [55] ayat 19-22, dan al-Furqan [25] ayat 53.
“Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing. Maka nikmat Allah yang manakah yang kamu dustakan. Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.” (QS. ar-Rahman [55]: 19-22)
“Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (QS. al-Furqan [25]: 53)
Jangankan bagi masyarakat awam, kalangan akademisi pun takjub dibuatnya. Sebab, keberadaannya penuh dengan keajaiban. Bagaimana mungkin satu laut ditemukan dua warna yang berbeda? Tapi, itulah faktanya. Setelah dicermati dan dikaji secara saksama keterangan dari quran, para ilmuwan berhasil mengungkapkan keberadaannya, yakni di Selat Gibraltar yang menghubungkan antara Lautan Mediterania dan Samudera Atlantik serta memisahkan Spanyol dan Maroko.
Nama Gibraltar berasal dari bahasa Arab Jabal Thariq yang berarti Gunung Thariq. Nama ini merujuk pada Jenderal Muslim Thariq bin Ziyad yang menaklukkan Spanyol pada tahun 711 M.
Di Selat Gibraltar itu terdapat pertemuan dua jenis laut yang berbeda warna. Seperti ada garis pembatas yang memisahkan keduanya. Satu bagian berwarna biru agak gelap dan pada bagian lain tampak lebih terang.
Menurut penjelasan para ahli kelautan seperti William W Hay, guru besar Ilmu Bumi di Universitas Colorado, Boulder, AS dan mantan dekan Sekolah Kelautan Rosentiel dan Sains Atmosfer di Universitas Miami, Florida AS, serta Prof Dorja Rao, seorang spesialis di Geologi Kelautan dan dosen di Universitas King Abdul-Aziz, Jeddah, air laut yang terletak di Selat Gibraltar tersebut memiliki karakteristik berbeda, baik dari kadar garamnya, suhu maupun kerapatan air laut.
Dan seperti dijelaskan dalam surah al-Furqan [25] ayat 53, yang satu bagian rasanya tawar dan segar, sedangkan bagian lain rasanya asin lagi pahit. Dan antara keduanya, tak pernah saling bercampur (bersatu satu sama lain), seolah ada dinding tipis yang memisahkannya.
Hebatnya lagi, kedua laut itu dibatasi oleh dinding pemisah. Bukan dalam bentuk dinding tebal, pembatasnya adalah air laut itu sendiri. Dinding pemisah itu bergerak di antara dua lautan dan dinamakan dengan front (jabhah) yang memisahkan antara dua pasukan. Dengan adanya pemisah ini setiap lautan memelihara karakteristiknya sehingga sesuai dengan makhluk hidup (ekosistem) yang tinggal di lingkungan itu.
Pada tahun 1873 M/1283 H, para ilmuwan dari tim peneliti Inggris, dalam ekspedisi Laut Challenger, menemukan adanya perbedaan di antara sampel-sampel air laut yang diambil dari berbagai lautan. Dari situ manusia mengetahui bahwa air laut berbeda-beda kondisinya satu dengan yang lain, baik dalam hal kadar garam, temperatur, berat jenis, dan jenis biota lautnya.
Melalui ratusan ‘stasiun laut’ yang dibuat, para ilmuwan menyimpulkan bahwa perbedaan karakter tersebut mendeterminasi satu lautan dengan lainnya. Namun mereka masih mempertanyakan, mengapa tidak bisa bercampur?
Pertama kali muncul jawaban itu di lembaran buku-buku ilmiah pada tahun 1942 M/1361 H. Studi mendalam tentang karakteristik lautan menyingkap adanya lapisan-lapisan air pembatas yang memisahkan antara lautan-lautan berbeda, dan berfungsi memelihara karakteristik khas setiap lautan dalam hal kadar berat jenis, kadar garam, biota laut, suhu, dan kemampuan melarutkan oksigen.
Setelah tahun 1962, diketahui fungsi batas-batas laut tersebut dalam ‘mengolah’ aliran air laut yang menyeberang dari satu laut ke laut lain sehingga laut yang satu tidak melampaui laut lainnya. Dengan demikian lautan-lautan tersebut tidak bercampur aduk karena setiap lautan menjaga karakteristiknya masing-masing dan batas-batas wilayahnya karena adanya pembatas-pembatas tersebut. Dan karena adanya dinding pemisah dan perbedaan warna itu pula, maka hewan yang hidup di laut berwarna kebiruan dan asin, tak bisa hidup di laut yang airnya tawar. Demikian pula sebaliknya. Subhanallah.
Menara Hassan dibangun mulai tahun 1191 oleh Abu Yusuf Yaqub al-Mansur, Khalifah ketiga dari Kekhalifahan Almohad (Muwahidun). Namun tidak selesai, menara ini dimaksudkan untuk menjadi menara terbesar di dunia, dan masjid juga akan menjadi yang terbesar di dunia. Ketika al-Mansur meninggal tahun 1199, pembangunan masjid terhenti, menara dibiarkan berdiri di ketinggian 44 meter. Bagian masjid lain nya juga terbengkalai dengan beberapa dinding dan 348 kolom.
Meskipun menara dan masjid tersebut dibangun oleh Abu Yusuf Yaqub al-Mansur, monumen tersebut dikenal sebagai Menara “Hassan” atau Masjid al-Hassan. Bagaimana monumen itu diberi nama ini tidak diketahui, meskipun penggunaan nama itu dibuktikan sejak abad ke-13.
Al-Mansur telah membuat keputusan untuk membangun ibu kota kekaisaran berbenteng baru, yang disebut al-Mahdiyya atau Ribat al-Fath, di tempat yang sekarang menjadi kota Rabat, dengan tembok baru yang membentang di area yang luas di luarnya.
Yaqub al-Mansur melakukan pekerjaan lain di Rabat, terutama pembangunan tembok dan gerbang kota baru serta penambahan Kasbah Udaya. Terlepas dari semua pekerjaan dan biaya ini, ibu kota Almohad tetap berada di Marrakesh dan tidak pernah benar-benar dipindahkan ke Rabat.
Setelah kematian Yaqub al-Mansur pada tahun 1199 masjid dan ibu kota baru tetap belum selesai dan penerusnya kekurangan sumber daya dan keinginan untuk menyelesaikannya. Hampir semua bahan yang tertinggal diambil dari lokasi untuk digunakan dalam konstruksi di tempat lain. Masjid ini mengalami beberapa kerusakan pada Gempa Lisboa tahun 1755.
Pada abad ke-20, para arkeolog kolonial Prancis dan Maroko menggali situs tersebut dan dengan hati-hati merekonstruksi apa yang tersisa. Pada tahun 1960-an situs reruntuhan masjid diubah untuk mengakomodasi pembangunan Mausoleum Mohammed V. Makam dan masjid modern dirancang oleh arsitek Vietnam Cong Vo Toan dan selesai pada tahun 1971. Menara dan situs masjid diberikan Status Warisan Dunia pada tahun 2012 sebagai bagian dari situs yang lebih besar yang mencakup Rabat yang bersejarah.
Masjid ini ditempatkan secara strategis di tepi selatan sungai Bu Regreg yang tinggi untuk memberikan tontonan mengesankan yang terlihat dari jarak bermil-mil. Karena daerah sekitarnya adalah pinggiran kota pada saat pembangunan dan kekurangan penduduk untuk memenuhi masjid secara teratur, sejarawan telah dituntun untuk percaya bahwa itu dimaksudkan untuk melayani pasukan Almohad yang berkumpul di sini sebelum memulai kampanye dan bahkan mungkin untuk melayani dua kali lipat tugas sebagai tempat ibadah dan sebagai benteng.
2. Mausoleum of Muhammad V, Rabat
Mausoleum Muhammad V adalah sebuah makam kerajaan yang terletak di Rabat, ibukota Maroko. Terletak di lapangan terbuka menara Hassan dan menjorok ke muara sungai Bouregreg. Makam ini menampung makam Raja Muhammad V, mantan Sultan Sidi Mohammed ben Youssef dan putra-putranya, Pangeran Moulay Abdallah dan Raja Hassan II.
Dirancang oleh arsitek Vietnam, Eric Vo Toan, dibangun antara 1961 dan 1971, 10 tahun kerja di mana 400 pengrajin Maroko berkolaborasi. Bangunan ini ditandai dengan arsitektur Maroko klasiknya. Sejak 2012, tempat ini telah menjadi bagian dari semua situs Rabat yang terdaftar di Situs Warisan Budaya UNESCO sebagai properti budaya.
3. Kasbah Udaya, Rabat
Kasbah merupakan tempat tinggal pemimpin lokal sekaligus untuk benteng pertahanan ketika kota itu diserang. Sebuah kasbah biasanya memiliki tembok tinggi, tanpa jendela, sering dibangun di puncak bukit, sehingga lebih mudah dipertahankan. Beberapa ditempatkan di dekat pintu masuk menuju ke pelabuhan. Pembangunan kasbah merupakan simbol kesejahteraan bagi beberapa keluarga, bahkan dulu hampir semua kota memiliki kasbah masing-masing karena sangat penting bagi kota untuk bertahan hidup.
Kasbah Udaya adalah sebuah kasbah di Rabat yang terletak di mulut sungai Bou Regreg di seberang kota Salé. Kasbah Udaya dibangun pada masa Muwahhidun (1121-1269). Ketika Muwahhidun merebut Rabat dan menghancurkan kasbah Murabitun di kota tersebut, mereka mulai membangunnya kembali pada tahun 1150. Mereka menambahkan sebuah istana dan masjid dan menamainya al-Mahdiyya, dari nenek moyang mereka al-Mahdi Ibn Tumart. Setelah kematian Yaqub al-Mansur (1199), kasbah ini ditinggalkan.
Kami ikut paket Tour MAROCCO-SPAIN (11D9N) dari Tazkia Tour & Travel mulai tanggal 24 Feb 2023 s.d 7 Mar 2023. Berangkat dari Jakarta dengan pesawat Qatar Airways tanggal 24 Feb 2023 pukul 14:00 WIB, transit di Doha kemudian lanjut ke Casablanca, sampai di Casablanca tanggal 25 Feb 2023 pukul 08:00 waktu setempat. Dari Casablanca naik bis menuju Marrakech menuju titik awal tour. Kota yang disinggahi setelah Marrakech adalah Casablanca, Rabat, Tangier, dan terakhir menyeberangi selat Gibraltar dengan kapal fery ke Algeciras.
1. Menara Gardens, Marrakech
Menara Gardens atau dikenal sebagai Le Jardin de la Menara berlokasi di Ain Mezouar, tak jauh dari Masjid Koutoubia. Bangunan kuno itu makin istimewa dengan kolam luas yang dikelilingi kebun zaitun. Memasuki Le Jardin de la Menara kita bakal langsung disuguhi plaza yang mengarah kepada bangunan dengan atap berbentuk piramida berwarna hijau, seolah menara tapi rendah.
Menara Gardens dibangun pada abad ke-16 oleh Dinasti Saady, kemudian direnovasi oleh Sultan Abdurrahman sebagai rumah tinggal di musim panas. Taman besar ini, yang dulu merupakan tempat peristirahatan kerajaan, kini menjadi tempat favorit bagi penduduk setempat yang ingin menikmati kedamaian dan ketenangan. Sebagian besar area ini dipenuhi dengan kebun zaitun, tetapi bagi pengunjung, daya tarik utama dan alasan untuk datang ke sini adalah kolam pantulan besar dengan paviliun yang bagus. Ada peluang foto luar biasa di sini dari kolam dengan Pegunungan Atlas tercermin dalam airnya, pada hari yang cerah.
2. Museum Dar El Bacha, Marrakech
Dar El Bacha Marrakech adalah landmark ikonik di kota Marrakech, Maroko, merupakan istana indah yang telah berdiri sejak abad ke-18 dan merupakan simbol kekayaan sejarah dan budaya kota.
Dar El Bacha awalnya adalah kediaman megah yang dibangun pada tahun 1910 dan pernah menjadi rumah bagi Thami El Glaoui, yang ditunjuk sebagai Pasha of Marrakech oleh Sultan Moulay Youssef pada tahun 1912. Pada tahun 2017, bangunan tersebut direnovasi oleh NFM dan diubah menjadi museum yang berfungsi sebagai contoh utama arsitektur tradisional Maroko. Ini terlihat dari air mancur, salon tradisional, dan halaman yang dipenuhi pohon jeruk.
Bangunan ini adalah contoh klasik riad, terdiri atas sebuah taman yang dikelilingi oleh enam ruangan di keempat sisinya. Tata letak riad simetris, terutama mengenai sumbu lorong tengah. Dar El Bacha juga terdiri atas beberapa bangunan tambahan, seperti hammam tradisional, douiria yang merupakan ruang yang disediakan untuk pegawai istana, perpustakaan, dan area “harem” pribadi yang disediakan untuk keluarga Pasha.
Dekorasi seluruh kediaman sangat halus. Zelliges dan langit-langit kayu berukir menjadi saksi kerumitan dan kecanggihan pola dekoratif yang ditemukan di Maroko. Pasokan air dan sistem drainase, serta sistem pemanas hammam, menampilkan kecerdikan keahlian Maroko.
Dar El Bacha adalah lokasi megah dengan arsitektur dan ornamen indah yang telah dikunjungi oleh tokoh-tokoh terkemuka seperti Winston Churchill, Franklin D. Roosevelt, dan baru-baru ini, Meryl Streep dan Owen Wilson, antara lain.
Museum di Dar El Bacha membanggakan koleksi besar artefak primitif dan antik yang disusun oleh Patti Birch, seorang filantropis Amerika. Selain itu, museum ini juga menampung berbagai donasi yang telah ditawarkan dengan murah hati kepada NFM oleh para kolektor yang menyukai kerajinan dan warisan Maroko, serta kota Marrakech.
Arsitektur Dar El Bacha Marrakech benar-benar unik. Istana ini terdiri atas beberapa bangunan yang dihubungkan oleh rangkaian halaman dan taman. Dindingnya dihiasi dengan mozaik yang rumit dan ubin berwarna-warni, yang membuat istana ini tampak semarak dan menarik. Istana ini juga memiliki beberapa kubah dan menara yang menambah kemegahannya. Istana ini juga memiliki beberapa balkon dan teras yang menawarkan pemandangan kota yang menakjubkan.
Dar El Bacha Marrakech juga menjadi simbol penting bagi masyarakat Marrakech. Ini adalah pengingat akan sejarah dan budaya kota yang kaya, dan berfungsi sebagai pengingat akan penguasa kota di masa lalu. Istana ini juga merupakan tujuan wisata yang populer, karena menawarkan pengunjung sekilas ke masa lalu kota. Istana ini juga merupakan rumah bagi beberapa galeri seni dan museum, yang menampilkan budaya dan sejarah kota yang unik.
3. Masjid Koutoubia, Marrakech
Koutoubia Mosque minaret at medina quarter of Marrakesh.
Masjid Koutoubia dibangun pada abad 12 oleh dinasti Almohad (Muwahidun). Masjid ini adalah masjid terbesar di kota Marrakesh, Maroko dan memiliki menara yang juga merupakan menara tertinggi di Marrakesh, yaitu sekitar 70 m. Hukum setempat membatasi segala pembangunan yang melampaui tinggi menara tersebut, sehingga menara tersebut tetap menjadi puncak tertinggi di kota Marrakesh.
Masjid ini memiliki nama yang beragam seperti Jami’ al-Kutubiyah, Kutubiya Mosque, Kutubiyyin Mosque, dan Mosque of the Booksellers. Nama-nama ini diambil karena dahulu abad ke-12 sampai 13 area di sekitar masjid banyak penjual buku atau naskah sehingga nama ‘kitab’ melekat pada nama Masjid Koutoubia.
Keistimewaan masjid terletak pada menara yang berdiri indah dan menakjubkan, selain itu menara yang memiliki tinggi 77meter ini hanya dapat dimasuki oleh umat Islam saja. Di puncak menara terdapat hiasan berbentuk bola yang terbuat dari emas asli. Pada awalnya hanya terdapat tiga bola, lalu bola keempat didonasikan oleh istri Yacoub el-Mansour karena beliau gagal untuk berpuasa pada bulan Ramadan.
Menara yang megah dan menguasai langit-langit kota tua ini adalah perpaduan dari bata, semen dan batu. Masjid ini juga dikelilingi oleh taman yang luas dan indah, menjelang maghrib tempat ini selalu dipadati oleh wisatawan dan warga setempat sambil menanti adzan maghrib dikumandangkan. Sebuah pemandangan indah terlihat tatkala matahari tenggelam dan senja mulai tergantikan oleh malam, menara Masjid Koutoubia ini menjadi pemandangan yang menarik karena warna warni lampunya yang spektakuler.
4. Jeema’ el Fna, Marrakech
Kami menikmati makan malam di sebuah restoran dengan view point ke lokasi Jeema’ el Fna yang hiruk pikuk.
Proclamation Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity diterapkan UNESCO sejak tahun 2001 untuk meningkatkan kesadaran masyarakat lokal dan melestarikan warisan tradisi non-bendawi di daerah masing-masing. Perwujudan warisan tersebut dinamakan Karya Agung yang sekarang sudah mencapai 90 Karya Agung dari 70 negara.
Bahasa, sastra, musik, tari, permainan, olahraga, tradisi kuliner, ritual, mitologi, ilmu sehubungan dengan jagat raya, teknik tradisional pembuatan kerajinan tangan adalah beberapa contoh warisan non-bendawi dimaksud. Warisan ini dipandang sebagai himpunan keragaman budaya, dan ekspresi kreativitas, serta aturan sejak dahulu kala.
Posisinya yang rentan terhadap kekuatan globalisasi, transformasi sosial, dan intoleransi, menyebabkan UNESCO mendorong komunitas-komunitas untuk mengenali, mendokumentasi, melindungi, memasarkan, dan merevitalisasi peninggalan-peninggalan kebiasaan dimaksud.
Ide proyek ini berasal dari keprihatinan orang-orang terhadap Alun-alun Jeema’ el Fna di Marrakesh, Maroko. Alun-alun Jeema’ el Fna dikenal sebagai pusat kegiatan tradisional yang diramaikan oleh pencerita, pemusik, dan artis pertunjukan, namun terancam oleh tekanan-tekanan pembangunan ekonomi. Dalam usaha melindungi tradisi-tradisi mereka, penduduk setempat meminta tindakan dari tingkat internasional untuk mengakui pentingnya perlindungan untuk tempat-tempat seperti Jeema’ el Fna, mereka sebut sebagai ruang budaya serta bentuk-bentuk ekspresi budaya tradisional dan populer lainnya. Istilah “Karya Agung Budaya Lisan dan Non-Bendawi Warisan Manusia” yang dipakai UNESCO bertujuan meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya warisan budaya lisan dan non-bendawi sebagai suatu unsur hakiki dari keberagaman budaya.
Tontonan di Djemaa el Fna berulang setiap hari, dan setiap hari selalu berbeda. Segala sesuatunya berubah, suara, bunyi, gerak, dan publik yang melihat, mendengar, mengindera, merasa, dan menyentuh. Tradisi lisan dibingkai oleh sesuatu yang lebih luas, sesuatu yang kita sebut non-bendawi. Alun-alun Jeema’ el Fna sebagai ruang fisik, menyimpan tradisi non-bendawi dan lisan yang kaya.
Jeema’ el Fna, sebuah area dimana jantung kota Marrakesh berdetak, kota berwarna merah yang merupakan salah satu kota bersejarah yang berjarak 400 km dari ibu kota Rabat. Tempat ini merupakan salah satu destinasi yang menjadi incaran para wisatawan asing, khususnya dari Eropa.
Di tengah alun-alun banyak penjual barang kerajinan, perempuan pembuat Tattoo Hena, penjual air dengan pakaian tradisional, pemain akrobat, pemain suling dengan ular kobra. Selain itu ada juga kereta kuda yang bisa disewa berkeliling. Jika ingin berkunjung ke tempat ini sebaiknya di sore hari, karena menjelang malam alun-alun ini akan semakin ramai. Hati-hati di tempat ini sangat banyak copet. Jika ingin membeli barang harus benar- benar ditawar. Kalau ingin berfoto atau memotret pemusik tradisional, penjual air dengan pakaian tradisonal harus sediakan uang karena mereka akan minta bayaran.