Jepang 2019 – Tokyo

Jepang, 8-14 April 2019

Tour ke Jepang tahun ini memberi insight yang berbeda bagi kami sekeluarga, saya, Esther dan putra kami Zaki, tergabung dalam group Bayu Buana sekitar 28 orang. Rombongan berangkat dari bandara Soetta dengan Singapore Airline hari Senin sore ke Singapore dulu, transit 3 jam, lalu terbang lagi sekitar 8 jam sampailah di Bandara Haneda Selasa pagi. Dari bandara Haneda, mulai lah tour berlangsung dengan bus yang sangat nyaman, menyusuri sebagian dari pulau Honshu dari Tokyo ke arah barat daya (south-west) menyambangi spot-spot di Tokyo, Kawaguchi, Matsumoto, Takayama, Shirakawago dan Kyoto. Dari Kyoto kami mencoba ‘kehebatan’ Shinkansen atau bullet train yang membawa kami dari Kyoto menuju destinasi terakhir Osaka, esok harinya sudah jadwal pulang ke Indonesia melalui bandara Kansai. Berikut adalah catatan beberapa spot yang kami alami atau singgahi.

  1. Ueno Park, Tokyo

Ueno Park adalah taman umum yang berada di kawasan Ueno, distrik Taito-ku, Tokyo, Jepang. Nama resminya adalah Taman Ueno Pemberian Kaisar (Ueno onshi koen). Ueno Park juga merupakan taman paling populer di Jepang yang menarik lebih dari empat belas juta pengunjung di setiap tahunnya. Baik siang ataupun malam, taman ini selalu ramai pengunjung. Taman dengan luas sekitar 530 ribu meter persegi ini dikelola Dinas Pekerjaan Umum Tokyo.

Salah satu destinasi wisata yang paling terkenal dikalangan turis dengan tempat untuk berekreasi dan melihat mekarnya bunga sakura. Selain itu, taman ini juga dilengkapi dengan fasilitas umum yang tentunya dapat dinikmati publik, seperti Tokyo National Museum, National Museum of Nature and Science, National Museum of Western Art dan beberapa lainnya. Rimbunan pepohonan sebagai paru-paru kota dan suasana yang asri semakin menambah keindahan taman ini.

Ueno Park

Patung Berkuda Istana Pangeran Komatsu Akihito.

Mekarnya bunga sakura merupakan lambang kebahagiaan telah tibanya musim semi. Mekarnya bunga sakura juga sudah dinanti-nanti oleh warga Jepang bahkan warga asing. Karena banyak dari mereka akan melakukan hanami, yaitu semacam piknik dengan menggelar tikar bersama keluarga dan teman-teman untuk pesta makan-makan di bawah pohon sakura. Taman Ueno memiliki 10.000 pohon, termasuk 1.200 pohon sakura, mulai dari Pohon Ceri Jepang (yang bunganya merupakan bunga khas Jepang “Sakura”), Ginko Biloba, dan masih banyak lagi. Pada akhir Maret dan awal April, Ueno Park menyediakan lokasi untuk menikmati bunga sakura yang paling ditunggu-tunggu oleh dua juta pengunjung untuk menjalankan tradisi hanami. Di sepanjang jalur sakura sudah berjejer pengunjung yang menikmati Hanami. Mulai dari keluarga, anak sekolahan, mahasiswa hingga pegawai kantoran. Lahan khusus yang disediakan dibatasi oleh tali pembatas, sehingga tidak ada penikmat hanami yang duduk melewati batas tersebut, sangat teratur. Pada pukul 17.00 hingga malam hari kita bisa menyaksikan yozakura, yaitu melihat bunga sakura di malam hari. Bunga Sakura biasanya mekar puncaknya hanya dua minggu dan pasti hilang perlahan-lahan. Jika sudah lewat dari dua minggu, akan pindah menuju daerah utara, daerah Tohoku dan terakhir di Hokkaido.


Hanami di Ueno Park

Taman Ueno ini bermula dari sebuah kuil Kan’ei-ji yang dibangun pada zaman Edo oleh shogun ke-3 Tokugawa lemitsu. Kuil Kan’ei-ji dibangun untuk menyegel kekuatan jahat dari timur laut yang dipercaya sebagai mata angin sial. Semasa Perang Boshin pada tahun 1868, bangunan Kan’ei-ji habis terbakar setelah dipakai sebagai benteng pertahanan kelompok prajurit pendukung keshogunan yang disebut Shogitai. Pada tahun 1870, dokter Belanda Anthonius Bauduin datang untuk memeriksa bekas kuil Kan’ei-ji. Rencananya, lokasi ini akan didirikan sekolah kedokteran dan rumah sakit. Sang dokter juga menyarankan untuk mempertahankan kawasan Ueno sebagai sebuah taman kepada pemerintah. Selanjutnya di tahun 1873, lokasi Taman Ueno sudah ditetapkan berdasarkan perintah Dajokan (menteri dalam negeri).

Pada tahun 1876, Taman Ueno sudah selesai dibangun dan mulai dibuka untuk umum. Selanjutnya dimulailah pembangunan Kebun Binatang Ueno dan Museum Nasional Tokyo di tahun 1882. Tahun 1890, tanah kawasan taman berada di bawah yurisdiksi Bagian Tumah Tangga Kekaisaran dan menjadi hak miliknya. Pada tahun 1924, taman secara resmi diberi nama Taman Ueno Pemberian Kaisar (Ueno Onshi Koen) karena Bagian Rumah Tangga Kekaisaran menghibahkan taman kepada pemerintah Tokyo. Lalu, dibangun stasiun kereta api baru antara Stasiun Nippori dan Stasiun Keisei Ueno di Jalur Utama Keisei. Stasiun ini selesai dibangun dan diberi nama Stasiun Hakubutsukan-Doubutsuen pada tahun 1933. Sebelum dihapus pada tahun 2004 Stasiun Hakubutsukan-Doubutsuen sudah berhenti beroperasi di tahun 1997. Kemudian di buatlah patung Anthonius Bauduin untuk memperingati 100 tahun berdirinya Taman Ueno pada tahun 1973.

Kita bisa menikmati taman ueno ini sepanjang tahun atau merasakan empat musim di Taman Ueno. Jadi kapanpun kita bisa datang ke Taman Ueno, karena taman ini selalu menyajikan hal yang berbeda di setiap musimnya. Tak hanya di musim semi dengan bunga sakura yang indah, musim yang lainnya pun tak kalah indah dan menarik.

Selain tempat berekreasi, ada banyak spot yang menarik untuk dikunjungi di Taman Ueno.

  • Museum Nasional Tokyo (Tokyo National Museum) merupakan museum tertua dan terbesar di Jepang. Museum ini terdiri dari lima bangunan yang terpisah. Bangunan ini dibuat terpisah karena masing-masing memiliki fungsi yang berbeda.
Museum Nasional Tokyo
  • Museum Seni Metropolitan Tokyo (Tokyo Metropolitan Art Museum) dibuka pada bulan April 2012. Museum ini menampilkan banyak seni dan galeri. Namun, tidak banyak koleksi permanen yang bisa ditemui dalam bangunan ini, taman ini terbuka untuk umum.
Tokyo Metropolitan Art Museum
  • Museum Sains Nasional merupakan museum ketiga yang ada di Ueno park dan paling banyak dikunjungi oleh pelajar dan wisatawan mancanegara. Di dalam museum ini terdapat 100.000 benda seni dan sejarah tentang awal berdirinya negara Jepang.
Museum Sains Nasional
  • Museum Nasional Seni Barat (National Museum of Western Art) adalah museum yang khusus menampilkan seni barat.
National Museum of Western Art
  • Museum Shitamachi (Shitamachi Museum) memamerkan nostalgia dan rekontruksi tentang kehidupan Tokyo sebelum masa restorasi Meiji.
Shitamachi Museum
  • Monumen Penanaman Presiden Grant, adalah monumen kenangan Presiden Amerika Serikat abad 18-19 yaitu Ulysses S. Grant ketika beliau datang ke Jepang pada tahun 1987. Pada saat itu Presiden Grant menanam pohon cemara lawson dan istrinya menaman pohon magnolia.
Monumen Penanaman Presiden Grant
  • Kebun Binatang Ueno, adalah kebun binatang tertua dan terkenal di Jepang. Kebun binatang ini dibuka pada tanggal 20 maret 1882. Untuk mencapai tempat ini, sahabat cukup berjalan kaki selama kurang lebih lima menit dari pintu keluar Stasiun Ueno. Ada pula sebuah taman rekreasi kecil di sekitar, untuk anak-anak. Kebun binatang nya cukup luas dan tersedia monorel untuk mengantar pengunjung dari satu ujung ke ujung lainnya. Di sini kita bisa menjumpai hewan-hewan dari seluruh wilayah Asia dan Eropa, dengan koleksi paling bervariasi di Jepang dengan lebih dari 400 spesies dan 3.000 hewan. Yang paling terkenal adalah harimau, beruang, singa, gorila, dan biasanya yang menjadi favorit, adalah panda merah. Kita juga akan menjumpai 2 ekor panda primadona Kebun Binatang Ueno.
Kebun Binatang Ueno
  • Kuil Yushima Tenjin, Inilah kuil yang sangat terkenal di Ueno Park, yaitu Yushima Tenjin Shrine. Kuil ini terletak di dekat stasiun Okacimahi. Yushima Tenjin Shrine didirikan pada tahun 1355 yang dikhususkan bagi para pemeluk agama Shinto. Selain itu, tempat ini juga sangat populer bagi para pelajar untuk berdoa dan meminta agar disukseskan dalam ujian sekolah mereka. Wajar jika sebagian orang juga menyebut kuil ini dengan sebutan ”Kuil Pelajar”.
Kuil Yushima Tenjin
  • Kuil Toshogu, dibangun pada tahun 1617 dan terkenal dengan sejarah bangunan arsitekturnya.
Kuil Toshogu
  • Kuil Bentendo, berada di tengah-tengah Danau Shinobazu, untuk ke kuil ini kita bisa melewati jembatan batu.
Kuil Bentendo
  • Kuil Shimizu Kannon-do, temanya sama dengan Kuil Kiyomizu-dera di Kyoto.
Kuil Shimizu Kannon-do
  • Kuil Hanazono Inari (Shinobuoka Inari), kuil ini identik dengan beberapa torii (gerbang merah yang umumnya ada di Kuil Shinto), jadi bisa dirasakan betapa fantastiknya melewati gerbang torii.
Kuil Hanazono Inari
  • Asakusa Kannon Temple, Tokyo

Asakusa Kannon Temple merupakan kuil tertua di Jepang yang terletak di Asakusa Tokyo, dibangun tahun 628 dan selesai tahun 645. Kuil Budha yang satu ini memiliki desain eksentrik dibandingkan dengan kuil-kuil pada umumnya. Dengan Khas warna merah menyala membuat Kuil ini mudah dikenali. Asakusa Kannon Temple atau Kuil Sensoji terkenal dengan gerbangnya yang dikenal dengan nama Kaminarimon (Gerbang Halilintar) yang ditengahnya tergantung lentera raksasa berwarna merah. Dan gerbang ini yang menyambut kedatangan para wisatawan di Asakusa. Setelah melewati Kaminarimon, kita akan melihat Jalan Nakamise-dori atau Nakamise Street. Jika kita terus menyusuri Jalan Nakamise-dori ini, kita akan sampai di bangunan Kuil Sensoji yang megah. Dengan warna merah yang mencolok diantara gedung-gedung lainnya, Kuil Sensoji tetap berdiri tegak. Bangunan merahnya begitu unik dan di sinilah kita dapat menikmati pemandangan khas Jepang nan istimewa. Kita akan terkesan dengan arsitektur Buddha dan patung-patung yang ada di bagian dalam bangunan. Kompleks ini tetap menjadi kuil Buddha yang aktif digunakan dengan pendeta dan biarawan yang menerapkan gaya hidup kerohanian Buddha.

Asakusa Kannon Temple

Di aula Komagatado terdapat Bodhisattva Bato-kannon (patung Kannon), yang dapat kita lihat pada tanggal 19 setiap bulan dan selama festival besar setiap tahun pada tanggal 19 April. Berbagai acara digelar sepanjang tahun di kawasan Kuil Sensoji. Yang terbesar dari mereka adalah Sanja Matsuri, festival tahunan Kuil Asakusa yang diadakan pada bulan Mei. Acara lainnya adalah Karnaval Asakusa Samba pada bulan Agustus dan Hagoita-ichi (Pasar Hagoita) dimana dayung kayu yang dihias dalam permainan tradisional hanetsuki dijual. Sebaiknya datang pagi-pagi atau pada malam hari saat pengunjung tidak terlalu banyak. Dan tentunya tidak akan menyesal karena pemandangan Sensoji di waktu malam sangat impresif.

Orang Jepang biasanya berdoa di bangunan utama pada Kuil Sensoji. Kuil ini biasanya dipenuhi oleh penduduk Tokyo yang berharap berkah sebelum berangkat bekerja, selain menjadi tempat favorit turis. Orang-orang naik ke atas tangga untuk berdoa kepada Kannon, Dewi Kemurahan Hati (Goddess of Mercy). Keadaan sedikit remang-remang di dalam kuil yang indah ini. Di dekat altar ada tempat di mana orang-orang melemparkan batangan kayu untuk mengetahui peruntungan mereka. Setelah mendepositkan sejumlah koin, para umat akan mengocok wadah yang berisi batangan kayu hingga keluar batangan kayu. Kayu tersebut memiliki angka setelah itu orang tersebut akan pergi ke sebuah lemari untuk mencari potongan kertas yang sesuai dengan angka yang tertera di batangan kayu tersebut. Potongan kertas ini berisi ramalan masa depan yang biasa dikenal dengan istilah “omikuji”.

Kuil Sensoji ini dibangun dan didedikasikan kepada Bodhisattva Kannon (Avalokitesvara), yang dikenal sebagai Guan Yi, Dewi Welas ASih. Menurut legenda yang ada, patung Kannon ditemukan di Sungai Sumida pada tahun 628 oleh dua nelayan yang bersaudara yaitu, Hinokuma Hamanari dan Hinokuma Takenari. Dan setiap kali mereka bermaksud untuk mengembalikan patung tersebut ke dalam sungai, patung tersebut kembali ke permukaan. Kemudian kepala desa Asakusa, Hajino Nakamoto, mengakui kesucian patung tersebut dan mengabadikannya denagn merenovasi rumahnya sendiri menjadi sebuah kuil kecil di Asakusa, sehingga penduduk desa bisa menyembah Kannon. Asakusa pun makin padat dengan kunjungan peziarah yang akan berdoa. Kemudian, Ennin, seorang petinggi dalam agama Budha menciptakan sebuah status di kuil yang kini dikenal dengan Kuil Sensoji. Kuil ini selesai dibangun pada tahun 654 dengan nama Asakusa Kannon Temple, yang menjadikannya kuil tertua di Tokyo.

Gerbang Kaminarimon adalah pintu masuk Kuil Sensoji dan dianggap sebagai salah satu landmark Asakusa yang paling terkenal. Di dalam pintu gerbang di kedua sisinya terdapat dewa Buddha pelindung dalam bentuk patung kayu besar, dari mana gerbang ini mendapatkan namanya: Fujin (dewa angin) dan Raijin (dewa guntur). Dibalik kedua patung tersebut, terdapat patung Kinryou atau dewa naga emas dan Tenryou atau dewa naga langit. Gerbang Kaminarimon ini, dipasangi lentera berukuran raksasa. Beratnya sekitar 670 kilogram yang digantung di tengah-tengah gerbang bertuliskan Kaminarimon (“gerbang guntur”), dan di bawahnya adalah calving kayu dari naga tradisional Jepang. Lentera merah yang menggantung diganti secara berkala. Untuk yang sekarang, dipasang sejak tahun 2003, pada saat perayaan ulang tahun ke-400 periode Edo. Yang perlu diketahui, setiap bulan Mei di Asakusa diselenggarakan acara Sanja Matsuri. Saat acara dilangsungkan, kertas dari lentera merah akan dilipat agar tertabkrak oleh mikoshi atau tandu dewa. Jadi, jika kita melancong saat periode tersebut, tidak akan melihat lampion tersebut secara utuh.

Gerbang ini dibangun pertama kali tahun 941 oleh Taira no Kinmasa, seorang komandan militer Jepang. Furaijinmon menjadi nama awal dari gerbang ini. Pada awalnya terletak di dekat Komagata, kemudian pada tahun 1635 direkonstruksi di lokasi saat ini, Asakusa. Gerbang ini mengalami banyak pembakaran. Empat tahun setelah dipindahkan ke Asakusa, Kaminarimon habis terbakar. Tokugawa Iemitsu, Shogun ketiga dari dinasti Tokugawa kembali membangun gerbang ini dengan beberapa bangunan lain disekitarnya hingga akhirnya kembali terbakar pada tahun 1757 dan 1865. Kaminarimon dibangun kembali pada tahun 1960 dengan hasil sumbangan dari seorang pengusaha bernama Konosuki Matsushita. Sejak saat itu, gerbang ini seakan melupakan masa lalunya yang kelam, dan menjelma menjadi salah satu landmark paling penting di ibukota yang selalu setia menyambut kedatangan para wisatawan.

Nakamise-dori (Nakamise Shopping Street) adalah shopping street yang membentang dari Gerbang Kaminarimon sampai aula utama Kuil Sensoji. Dijuluki pusat perbelanjaan tertua di Jepang, karena sudah ada lebih dari 130 tahun. Dengan panjang sekitar 200 meter, Nakamise-dori tersusun lebih dari 80 toko. Dari dulu Nakamise-dori terkenal sebagai tempat belanja oleh-oleh khas Jepang yang lucu dan unik-unik. Mulai dari masker, lucky cats, figure little sumo wrestler, kipas Jepang, jimat-jimat sebagai pajangan, gantungan kunci, cangkir-cangkir lucu, dan deretan pernak-pernik tradisional khas Jepang dijual di sini atau juga Yukata dan kimono. Tak hanya souvenir saja yang dijual disini, tetapi Nakamise-dori ini juga merupakan tempat yang paling cocok untuk berbelanja kue-kue tradisional Jepang karena toko-toko tersebut sudah berdiri dan dikenal sejak lama. Kue-kue di Nakamise-dori ini rasanya enak dan harganya pun terjangkau. Pas untuk dijadikan oleh-oleh atau dijadikan camilan saat sedang jalan berkeliling di Nakamise-dori. Satu hal yang mesti dicoba di Nakamise-dori adalah sembei atau kerupuk beras yang rasanya unik.

Keramaian di Nakamise Street

Di sepanjang Nakamise-dori terdapat kios kuliner yang bisa dinikmati sambil berjalan-jalan seperti wagashi (camilan khas Jepang) dan juga toko aneka macam oleh-oleh yang berhubungan dengan Jepang. Sekitar Nakamise-dori terdapat banyak lorong dengan tampilan khas Jepang. Lorong yang kecil dan padat bangunan namun penuh tulisan dan gaya bangunan Jepang. Seperti di film drama Jepang dengan adegan orang yang sedang mabuk karena sake melewati lorong-lorong jalan yang agak sempit dan khas Jepang. Warga setempat maupun wisatawan asing pun melebur menjadi satu di tempat ini. Tempat belanja ini pun memiliki suasana yang berbeda tidak seperti tempat lainnya di Jepang. Ciri khas Nakamise Street ini memang agak tradisional tetapi cocok untuk merasakan suasana asli  Jepang. Terlebih lagi, harga barang yang ada di sini jauh lebih murah daripada tempat belanja lain di Jepang.

Pada siang hari, kuil ini selalu penuh sesak oleh para pengunjung. Tapi, bagaimanakah keadaan kuil ini di malam hari? Kuil Sensoji di malam hari tak kalah menarik dengan di siang hari. Pesona dan keindahan Kuil Sensoji di malam hari sungguh sayang untuk dilewatkan. Misalkan saja, dalam rangka memperingati 400 tahun peristiwa Edo Kaifu, setiap hari dimulai dari terbenamnya matahari hingga pukul 23.00, aula utama kuil Sensoji,  gerbang Hozomon, pagoda Gojunoto, dan gerbang Kaminarimon akan dihiasi dengan lampu penerangan yang indah dan akan terlihat menawan. Ada dua patung penjaga pada gerbang Hozomon. Pada malam hari, gerbang Hozomon yang diterangi cahaya lampu remang akan memancarkan keramahan sekaligus kegarangan. Selain itu, ada Pagoda Gojunoto yang terlihat megah bercahaya namun terkesan teduh dengan pencahayaan lampu dari arah bawah. Tetapi, jika kita berkunjung di malam hari, kita tidak bisa melihat bagian dalam aula utama. Karena pintu aula pertama ditutup akan tetapi kita masih bisa melihat altar persembahannya. Atau kita masih bisat melihat bagian dalamnya pada siang hari sampai pukul 17.00. Karena Suasana malam di sini sangat tenang bila dibandingkan saat siang hari yang penuh sesak oleh pengunjung.  Dan ornamen-ornamen pada pintu masuk aula utama yang tertutup semakin bersinar tertimpa cahaya lampu.

Berikut ini adalah ringkasan untuk mengenal setiap sudut di area Kuil Sensoji

Kaminarimon adalah gerbang paling depan yang menyambut para wisatawan di Asakusa.

Nakamise Street adalah jalan tempat perbelanjaan tertua di Jepang.

Hozomon adalah gerbang yang menyambut wisatawan yang sudah puas berbelanja di Nakamise-dori. Di gerbang tergantung sebuah waraji (sandal jerami) yang melambangkan kekuatan Nio-sama (dewa pelindung) dan merupakan salah satu alat untuk menangkal kekuatan jahat dan terbuat dari 2500 kg jerami. Lalu, di bagian atas gerbang terpasang dan tersimpan berbagai peralatan untuk mengantisipasi kebakaran serta benda-benda budaya yang berharga.

Omikuji adalah kertas ramalan setelah melewati Hozomon

Osuisha adalah tempat untuk menyucikan diri sebelum memasuki aula utama Kuil Senso-ji. Banyak orang berkumpul di sini untuk membasuh tangan dan berkumur dengan air yang keluar dari mulut patung naga.

Gerbang Hozomon
Osuisha

Patung batu yang menghiasi bagian tengah tempat air ini adalah ryushinzo (patung naga) yang mengeluarkan air.

Jokoro adalah tempat dupa yang berada di depan aula utama kuil dan banyak orang melumuri tubuh mereka dengan asap dari dupa. Ada kepercayaan jika melumuri asap dupa pada bagian tubuh yang sakit maka akan cepat diberikan kesembuhan.

Aula Utama Kuil Senso-ji adalah tempat orang-orang akan memasukkan uang ke dalam kotak dan berdoa kepada Kannon-sama yang berada di altar di belakang kotak. Satukan kedua tangan di depan dada dan lafalkanlah Namukanze-onbosatsu, pada saat berdoa di Kuil Senso-ji.

Jokoro
Aula Utama Kuil Sensoji

Yokodo adalah tempat tempat mencap ziarah, setelah turun dari tangga sebelah barat aula utama kuil, dapatkanlah goshuin (kertas bertuliskan nama kuil dan hari berziarah yang dicap dengan beberapa stempel) dan mari menuju ke Yokodo. Di Yokodo ini disediakan 2 jenis goshuin untuk Kannon-sama dan  Daikokuten-sama (salah seorang dewa keberuntungan). Goshuin yang sudah dibubuhi cap “sudah berziarah” bisa dijadikan kenang-kenangan perjalanan kita.

Yakushido terletak di belakang Yokodo yang berdiri sejak 345 tahun yang lalu dan merupakan salah satu bangunan tertua di dalam area Kuil Sensoji. Di sini ada 3 figur yang dipuja, yaitu Ju-o yang mengadili manusia di alam baka, Yakushi-nyorai, dan 12 generasi apoteker Juni-shinsho.

Yokodo
Yakushido

Awashimado adalah tempat penyimpanan patung Amida-nyorai dan Awashima-myojin, jika diteruskan perjalanan ke belakang Yakushido ditemukan Awashimado dimana tersimpan patung Amida-nyorai dan Awashima-myojin. Ada Upacara yang dilakukan dengan cara menusukkan jarum yang bengkok pada tahu atau konnyaku (sejenis agar-agar) bernama upacara Harikuyo yang diadakan setiap tahun pada tanggal 8 Februari.

Zenizuka Jizodo terletak di sebelah utara Awashimado. Alasan aula ini dinamai Zenizuka karena di bawah menara batu terkubur mata uang pada zaman Edo yang disebut kanei-tsuho. Terdapat juga patung batu yang disebut Kankan Jizo yang namanya berasal dari bunyi yang dihasilkan saat pengunjung mengetukkan batu kecil yang diletakkan di samping patung batu ke patung jizo-zama (patung Buddha). Patung ini berada di depan sebelah kanan dari Zenizuka Jizodo. Aula ini banyak dikunjungi orang-orang untuk memohon kelancaran usaha. Taman Berbukit di Belakang Aula Utama Kuil Senso-ji, Selanjutnya jika kita meneruskan perjalanan ke timur Zenizuka Jizodo maka akan terbentang ruang terbuka seperti taman di sekitarnya. Kita bisa bersantai di bawah rimbunnya pepohonan di area taman ini. Kita juga akan menemukan berbagai monumen dan patung batu saat berjalan-jalan mengelilingi tempat ini.

Sensoji Awashimado
Zenizuka Jizodo

Nitenmon. Jika kita berjalan kaki sekitar 10 menit dari taman ke arah aula utama, maka di sebelah kiri akan terlihat gerbang yang megah. Gerbang yang ditetapkan sebagai properti budaya penting Jepang. Dan gerbang ini bernama Nitenmon yang merupakan gerbang untuk mengabadikan 2 dari 4 dewa penjaga Buddha yaitu Jikokuten dan Zochoten.

Sensoji Nitenmon
Kuil Sensoji di Malam Hari

Shinboku, Langkahkan kaki ke arah kanan dari Nintenmon, di depan pos polisi berdiri sebuah pohon Ginko besar yang berusia 800 tahun. Dikatakan bahwa pohon ini tumbuh dari dahan yang ditancapkan oleh Minamoto Yoritomo saat berkunjung ke Kuil Senso-ji. Kita bisa merasakan kekuatan kehidupan dan alam yang tak terduga dari pohon yang bahkan bisa bertahan dari perang ini.

Bentendo

Bentendo disebut sebagai salah satu dari Kanto Benten dan merupakan aula untuk menyembah Rojo-Benzaiten yang berdiri di sebelah tenggara Bentenyama dari aula utama kuil ini. Di samping Bentendo terdapat menara lonceng yang megah. Kita bisa mendengar bunyi lonceng ini hanya pada setiap pukul 06.00 pagi dan malam pergantian tahun baru. Awalnya Benzaiten dipercaya sebagai dewi musik, kebijaksaan, dan kemakmuran di India. Sementara di Jepang sendiri dikenal sebagai salah seorang dari 7 dewa keberuntungan.

Jalan di Belakang Nakamise-dori, Setelah puas berkeliling area Kuil Sensoji dan ingin kembali, cobalah untuk melewati bagian belakang Nakamise-dori. Yang menarik adalah kita bisa melihat sekilas pemandangan Nakamise-dori dari jalan belakang. Jalan ini lebih tenang jika dibandingkan dengan jalan utama dan banyak berderet toko oleh-oleh yang unik dan kedai makanan.

Festival Musim Panas Sanja Matsuri yang berpusat di Kuil Sensoji

Festival Sanja Matsuri adalah matsuri setiap bulan Mei di Kuil Asakusa, Tokyo, Jepang. Pada hari Jumat, Sabtu, dan Minggu di minggu ketiga bulan Mei, selama tiga hari festival ini berlangsung. Perayaan dilakukan pada akhir pekan untuk memudahkan pengaturan lalu lintas. Nama resmi festival ini adalah Asakusa Jinja Reitaisai (Festival Besar Kuil Asakusa). Sanja Matsuri ditonton lebih dari satu setengah juta penonton, sekaligus dianggap festival terliar dari semua festival di Tokyo.

Festival ini di adakan untuk menghormati pendiri dari kuil sensoji yaitu Hinokuma Hamanari, Hinokuma Takenari dan Hajino Nakatomo dimana ketiga orang tersebut sudah di Tuhankan di kuil Asakusa yang berdekatan dengan kuil sensoji. Pada festival sanja matsuri ini sekitar 100 Mikoshi (dipercaya tempat bersemayam Kami, roh atau leluhur yang dihormati dalam kepercayaan Shinto) diparadekan dari kuil sensoji di jalanan Tokyo konon dipercaya untuk membawa keberuntungan. Festival ini juga diikuti oleh yakuza yang mengusung mikoshi dan mempertontonkan rajah di seluruh tubuh mereka. Kita bisa menikmati beragam pameran budaya Jepang, melihat orang-orang yang menari dan memainkan taiko (drum tradisional Jepang), mencoba makanan khas Jepang di stand-stand makanan, dan mencoba permainan tradisional. Selain itu, kita juga bisa melihat para Geisha yang melakukan pertunjukan dalam Sanja Matsuri. Biasanya para Geisha ini kana muncul dari lantai kedua Asakusa Kenban pada sabtu sore.

Festival Musim Panas Sanja Matsuri 
Para Geisha Memakai Hakama
  • Tokyo Skytree

Tokyo Skytree (東京スカイツリー Tōkyō Sukai Tsurī, Pohon Langit Tokyo), sebelumnya disebut New Tokyo Tower (新東京タワー, Menara Tokyo Baru) adalah menara siaran, observasi, dan rumah makan di Sumida, Tokyo, Jepang. Menara ini telah menjadi struktur tertinggi di Jepang sejak tahun 2010, dan mencapai ketinggian akhir 634 m pada bulan Maret 2011, sekaligus menjadikannya sebagai menara tertinggi di dunia, melampaui Menara Canton di Guangzhou, dan merupakan struktur tertinggi nomor dua di dunia setelah Burj Khalifa 829,84 m.

Pembangunan menara ini dipimpin oleh Tobu Railway dibantu oleh konsorsium enam stasiun penyiaran terestrial yang dikepalai oleh NHK. Menara ini berada di tengah-tengah proyek pengembangan kawasan di antara Stasiun Tokyo Skytree dan Stasiun Oshiage, sekitar 7 km timur laut Stasiun Tokyo. Salah satu dari fungsi utama menara ini untuk merelai sinyal siaran radio dan televisi. Fasilitas yang ada sekarang ini di Menara Tokyo (tinggi 333 m) tidak cukup tinggi untuk menyiarkan televisi terrestrial digital karena dikelilingi oleh banyak bangunan-bangunan tinggi. Proyek pembangunan menara ini selesai pada 29 Februari 2012, dan dibuka untuk umum pada 22 Mei 2012.

Tokyo Sky Tree Tower
  • Istana Kekaisaran Jepang di Tokyo

Meskipun kami hanya berkeliling di luar istana kekaisaran, namun catatan nya cukup menarik untuk di tulis. Istana Kekaisaran Tokyo (皇居 Kōkyo, artinya, “Tempat Tinggal Kekaisaran”) adalah tempat tinggal utama dari Kaisar Jepang. Istana ini terletak di pusat Tokyo, di sebuah lahan seluas 3,4 km persegi. Dari stasiun Tokyo, jaraknya cuma beberapa menit. Stasiun Otemachi adalah stasiun yang terdekat ke East Garden, sedangkan Kudanshita adalah yang terdekat ke Budokan. Tempat ini adalah sebuah area seperti taman besar yang terletak di wilayah tertutup Chiyoda, Tokyo sampai Stasiun Tokyo dan berisi beberapa bangunan termasuk istana utama (宮殿 (Kyūden), tempat tinggal pribadi keluarga kekaisaran, tempat pengarsipan, museum dan kantor administratif.

Istana ini dulunya merupakan tempat kediaman shogun, dan kemudian menjadi istana kaisar Jepang. Sempat dihancurkan di masa Perang Dunia II, istana ini kemudian dibangun kembali sebagaimana kemegahannya dulu. Istana Kekaisaran Tokyo senantiasa menjadi kediaman utama bagi keluarga kaisar Jepang. Seperti juga kediaman pemimpin negara lainnya, area bangunan dan taman tidak terbuka untuk umum. Namun, 2 tahun sekali (setiap tanggal 23 Desember dan 2 Januari), kita bisa memasuki area taman dalam untuk melihat keluarga kaisar memberi salam dari balkon.

Dulunya Tokyo bernama Edo. Dari tahun 1600an hingga 1867, shogun yang menguasai Edo menempati situs di pusat Tokyo ini dan mendiami Istana Edo. Pada tahun 1868, saat shogun ditaklukkan, Jepang memindahkan ibukotanya dari Kyoto ke Tokyo dan kemudian menempati situs Istana Edo. Setelah sebuah kebakaran menghancurkan sebagian besar kompleks istana ini, pemerintahan Jepang membangunnya kembali pada tahun 1888.

Di kompleks istana ini, terlihat dinding-dinding batu, menara yang menjulang, serta jembaran Nijubashi yang menghubungkan antara halaman dalam dan luar istana. Di kompleks ini juga akan ditemukan parit lebar yang dulunya memang diperlukan sebagai pelindung istana dari serangan luar. Di sisi timur istana, terletak Imperial Palace East Garden, yang buka setiap hari bagi masyarakat umum, kecuali pada hari Senin dan Jumat. Di taman ini Anda bisa menikmati ruang hijau yang tenang dengan kolam ikan dan taman khas Jepang yang tertata baik. Relik-relik dari dinding zaman Istana Edo juga masih tampak. Di dekatnya terletak National Museum of Modern Art Tokyo, MOMAT Kogeikan Crafts Gallery, dan Science Museum. 

Di utara istana ini adalah Taman Kitanomaru, lokasi dari Budokan Hall. Budokan adalah pusat bagi pertandingan beladiri, gulat, serta konser musik, mulai dari The Beatles hingga Taylor Swift. Kuil Yasukuni juga bisa dicapai dengan berjalan singkat dari Istana Tokyo, di sebelah barat lautnya. Istana Kekaisaran Tokyo ditutup untuk umum begitu juga dengan kompleks tamannya. Namun sejak tahun 1949, area kompleks Taman Istana Kaisar (The Imperial Palace Park) atau Kokyo Gaien dalam bahasa Jepang ini dibuka untuk umum. Kita bisa berkeliling taman dengan gratis! Di area taman Istana Kaisar Jepang, kita bisa jogging ringan atau bersepeda mengitari jalan sekeliling taman. Pada hari Minggu atau hari libur disediakan 150 sepeda yang dipinjamkan gratis untuk para wisatawan yang ingin melihat keindahan taman.

Luas taman Kekaisaran Jepang ini sekitar 1,15 km2. Dengan taman sebesar itu di ibukota Tokyo, merupakan incaran bagi pihak2 bisnis untuk menggarap daerah itu sebagai property, bahkan dari Amerika. Dan tentu saja, pihak kekaisaran tidak berkenan! Setelah kapitulasi Keshogunan dan Restorasi Meiji, penduduk, termasuk Shgun Tokugawa Yoshinobu, diminta untuk mengosongkan tempat dari Kastil Edo. Meninggalkan Istana Kekaisaran Kyoto pada 26 November 1868, Kaisar tiba di Kastil Edo, menuju kediaman barunya dan menamainya menjadi Tkei Castle. Pada saat ini, Tky juga disebut Tkei. Dia pergi ke Kyto lagi, dan setelah kembali pada 9 Mei 1869, namanya diubah menjadi Imperial Castle.

Taman kekaisaran Jepang ini, dibagi dengan beberapa area taman. Ada taman buah2an, taman bunga2an atau ‘hutan kota” dengan pepohonan besar. Masing2 area taman mempuyai desainer sendiri, arsitek2 taman Jepang. Oya, Jepang adalah salah satu Negara yang sangat bangga dengan sumber dayanya. Bahasanya. Bahkan desainer2nya. Itu lah yang membuat Jepang dikenal dengan sebuah Negara yang “sombong” karena mereka sekana2 tidak mau tahu dengan kesulitan wisatawan2 manca negaraa yang tidak bisa mengerti bahasa Jepang. Begitu juga desainer2 jepang yang dengan bangga untuk mendesain negaranya dengan keahlian mereka masing2. Dan sekarang ini, justru Jepang sangat bangga dengan datangnya banyak orang kesana untuk belajar tentang banyak hal dari Jepang.

Istana Kaisar di Tokyo

Sore hari kami sudah letih, karena kurang tidur atau lebih tepatnya di pesawat tidak bisa tidur senyaman di rumah. Oleh karena itu sore hari setelah mengitari istana kekaisaran Jepang, kami menuju Keihan Tsukiji Ginza Hotel untuk beristirahat, mengumpulkan tenaga untuk perjalanan esok hari.

  • Shibuya dan Patung Hachiko

Hari kedua di Jepang pagi-pagi sudah meluncur ke area Shibuya dengan dua simbol utama, yaitu Shibuya Crossing dan Hachiko. Shibuya merupakan pusat belanja yang dikenal dengan penyeberangan jalan teramai di dunia. Apa spesialnya penyeberangan ini? Semua kendaraan dihentikan pada waktu yang bersamaan sehingga orang yang ingin menyeberang bisa jalan ke arah mana pun. Dalam satu kali lampu hijau bisa dilewati sampai 3000 orang atau satu hari mencapai 500.000 orang yang menyeberang. Karena Shibuya merupakan destinasi untuk shopping, pastinya kunjungan ke Shibuya tidak lengkap kalau tidak masuk ke pusat perbelanjaan yang ada. Mulai dari Shibuya 109, department store ikonik Shibuya, hingga Disney Store dan Don Quijote, pusat perbelanjaan serba ada dan murah, semuanya tersedia di Shibuya.

Nama “Hachiko Mae Hiroba” berasal dari patung “Hachiko si anjing setia” yang terletak di Hachiko Mae Hiroba. “Hachiko si anjing setia” adalah anjing bernama Hachi yang dipelihara oleh dosen Ueno Eizaburo yang memberi dampak besar pada perkembangan pertanian, pertanahan, dan kayu di Jepang. Beliau tinggal di Shibuya dan pergi bekerja melalui Shibuya Station. Akan tetapi, beliau meninggal dunia setelah 1 tahun memelihara Hachi. Hachi tidak bisa melupakan majikannya yang telah meninggal dunia dan selalu menunggunya pulang di depan Shibuya Station. Hachi menunggunya selama 7 tahun hingga dimuat di Koran dan menjadi terkenal di Shibuya. Patung “Hachiko si anjing setia” didirikan pada tahun 1934 oleh penduduk yang kagum oleh kisah Hachi. Hachi meninggal 1 tahun setelah patung ini didirikan dan patung ini pun dikelilingi oleh bunga yang sangat banyak.

Shibuya Crossing

bersambung …..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *